rss

online counter

Tuesday, April 6, 2010

Rasa Cemas Mampu Mengurangi Depresi

Di kalangan orang-orang yang mengalami depresi, kegelisahan atau anxiety yang sering dikaitkan dengan rasa cemas ternyata dapat mengurangi depresi.

Sejumlah peneliti menggunakan functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI) untuk meneliti aktivitas otak mereka yang mengalami depresi, tetapi tidak gelisah, atau mereka yang menunjukkan berbagai tingkat depresi dan satu atau dua tipe kecemasan. Hasil studi ini dimuat dalam jurnal Cognitive, Affective & Behavioral Neuroscience.

Penelitian tersebut ditujukan pada depresi dan dua jenis kecemasan: anxious arousal—ketakutan yang kadang meningkat menjadi rasa panik dan anxious apprehension yang sering disebut sebagai rasa cemas.

”Meskipun kami berpikir bahwa depresi dan rasa cemas adalah hal yang terpisah, keduanya sering kali terjadi secara bersamaan,” ujar Profesor Gregory A Miller, psikolog dari University of Illinois, yang memimpin riset tersebut bersama psikolog proPesor Wendy Heller.

”Dalam studi secara nasional dari prevalensi perilaku gangguan psikiatrik, tiga perempat dari mereka yang didiagnosis mengalami depresi berat sedikitnya juga didiagnosis dengan satu gangguan lain. Pada banyak kasus mereka yang didiagnosis mengalami depresi biasanya juga mengalami anxiety dan sebaliknya,” ujar Miller.

Miller dan Heller lama berdebat bahwa kegelisahan pada mereka yang memiliki rasa cemas kronis adalah berbeda dengan kepanikan atau kewaspadaan berlebihan yang merupakan karakteristik dari anxious arousal.

Dari penelitian terhadap aktivitas otak dikaitkan dengan aktivitas ini dihasilkan bahwa kewaspadaan berlebihan telah meningkatkan aktivitas otak yang terkait depresi, sementara kecemasan menguranginya. Hal ini menyebabkan pengurangan pada efek negatif depresi dan rasa ketakutan. ”Kadang-kadang rasa cemas penting karena dia membantu Anda merencanakan dengan lebih baik dan jauh lebih fokus,” ujar Heller. Mereka yang dihinggapi rasa cemas akan lebih mengabaikan kata-kata negatif dan lebih fokus pada tugasnya.(livescience.com/ISW)

READ MORE - Rasa Cemas Mampu Mengurangi Depresi

Cemburu karena Masa Lalu Pacar

Saya pria, 26 tahun, belum menikah, wirausaha, memiliki seorang pacar yang keempat. Saya tidak memiliki penyakit tertentu, semuanya normal saja. Yang menjadi masalah, dan ini sangat menyiksa jiwa dan batin, adalah saya tidak bisa melupakan atau merelakan masa lalu pacar-pacar saya.

Saya selalu cemburu dan jengkel, hati panas, apabila mendengar apa yang telah mereka lakukan dengan pacar mereka terdahulu. Saya selalu berusaha untuk mengorek masa lalu mereka, apa saja yang telah mereka lakukan, sampai sejauh mana, berciuman seperti apa, dan seberapa sering mereka melakukan itu.

Setelah saya berhasil menggali pengakuan dari mereka, kemudian saya sendiri yang sakit hati dan menderita. Bayangan dan visualisasi pacar saya dan mantan mereka sering muncul di kepala. Begitu jelas dan hidup. Gejala ini mulai tampak pada pacaran yang kedua, sekitar lima tahun lalu, dan setelah itu berulang pada pacaran berikutnya.

Bila pikiran-pikiran negatif ini datang, terkadang tiba-tiba, biasanya suasana hati saya berubah drastis, cemburu berat, dan mulai memarahi pacar, mengeluarkan kata-kata kasar, mengungkit-ungkit masa lalu mereka, menghina dan merendahkan. Saya sadar masa lalu adalah masa lalu, dan tidak boleh diangkat-angkat lagi, tetapi kadang saya tidak bisa menahan emosi. Saya selalu menganggap mereka bodoh dan ujung-ujungnya jadi putus.

Kecemburuan itu bisa meledak meskipun cuma membayangkan pacar saya berpegangan tangan dengan mantannya. Saya berhasil mengorek semua informasi itu sampai sedetail-detailnya, terkadang pacar-pacar saya sampai menangis dan terpaksa bicara.

Sekadar info, saya mungkin seorang perfeksionis, apabila barang-barang saya, entah itu ponsel atau jam tangan, lecet meskipun tidak kelihatan, maka saya akan langsung membeli yang baru, yang lama kemudian saya jual dan ini telah berkali-kali terjadi sejak remaja. Dalam bekerja, saya sangat disiplin dan tanpa kompromi dalam membuat aturan, pelanggaran kecil pun sudah bisa membuat saya marah besar.

Bagi saya, peraturan yang telah dibuat demi kebaikan adalah mutlak. Saya adalah orang yang sangat rapi dan teratur, barang-barang di kamar saya selalu tertata dan saya tidak suka apabila letaknya diubah-ubah. Makanya saya selalu marah apabila ada orang masuk ke kamar tanpa izin dan memindahkan barang-barang. Saya sering bertengkar dengan anggota keluarga lainnya mengenai ”kelainan jiwa” saya ini, begitu sering mereka menyebut. Apabila masuk kamar saya, ada banyak aturan, mulai dari cuci kaki dan tangan, cuci mulut, mengganti celana dengan yang bersih.

Bisakah kondisi psikologis ini disembuhkan, atau paling tidak dikendalikan? Apakah pikiran, visualisasi tentang mantan pacar saya berhubungan dengan sifat perfeksionis? Bagaimana cara mengatasinya? Saya tidak mau pacar saya yang sekarang tidak tahan dan lari menjauh seperti sebelumnya.

N

Analisis

Masalah N memang dimulai dari adanya ciri-ciri kepribadian yang terlalu kaku dan ingin segalanya sempurna. Setiap orang punya gaya bertingkah laku tertentu dalam berhubungan dengan orang lain, misalnya ada yang teratur, ada yang pembangkang, ada yang patuh. Namun, bila pola tingkah lakunya menjadi sangat kaku, tidak fleksibel, hingga menimbulkan stres pribadi sampai mengganggu hubungan sosial dan pekerjaaannya, menurut Nevid, Rathus, dan Greene (2005), dia mengalami suatu gangguan kepribadian.

N condong masuk ke dalam golongan gangguan kepribadian obsesif kompulsif, karena sejak remaja sudah menunjukkan ciri di antaranya terlalu terpaku pada aturan, kebersihan dan detail, sangat perfeksionis, tidak fleksibel tentang moral, serta kaku dan keras kepala.

Yang dimaksud dengan obsesi adalah keterpakuan pada pikiran yang terus berulang dan tak dapat dikendalikan (misalnya terus membayangkan perilaku pacar dan mantannya). Adapun kompulsif adalah tingkah laku yang repetitif dan dianggap harus dilakukan. Bila tidak dilakukan, dia akan resah dan terus penasaran (misalnya N akan terus mendesak sang pacar untuk menceritakan masa lalunya). Bila sudah tercapai keinginannya, individu itu bukannya merasa lega atau puas, tetapi terus terbawa emosi negatif lainnya, seperti cemburu, marah, tidak terima.

Jadi sebenarnya, sejak dulu N sudah bermasalah dalam berhubungan dengan orang lain, hanya tidak terlalu dirasakan menyiksa. Berbeda dalam hubungan dengan pacar, yang lebih bersifat intim dan spesial. N pun menuntut adanya ”kesempurnaan” pada diri sang pacar, agar berlaku sesuai dengan standar moral yang N miliki. Berkembang juga ciri posesif, tak mampu menguasai emosi dan ingin mengontrol orang yang dicintai, yang biasanya berakhir dengan putus hubungan karena pacar, karena juga tersiksa dan tidak tahan lagi.

Cara mengatasi

Ada saran instan untuk membantu N, yaitu mencari pasangan yang belum pernah berpacaran sama sekali. Namun, hal ini juga tidak akan menjamin kelanggengan hubungan, bila akar masalah, yaitu gangguan kepribadian N, tidak diatasi.

Sesungguhnya diperlukan bantuan profesional yang tidak singkat waktunya untuk membantu N mengatasi kondisi psikologisnya, tetapi pasti akan lebih meringankan kehidupan selanjutnya. Terapi yang akan dijalani bergantung pada pendekatan teoretis yang digunakan oleh psikolog atau terapisnya.

Pendekatan psikodinamis akan mengajak N memahami akar masa kanak dan memperbaiki cara yang lebih efektif dalam berhubungan dengan orang lain. Pendekatan kognitif behavioral akan mendorong tingkah laku yang lebih adaptif dan keterampilan sosial yang efektif dengan mengubah cara berpikir yang salah dan tak rasional. Penggunaan obat antikecemasan dapat digunakan untuk mengendalikan gejala obsesif kompulsif N, tetapi tidak mengubah pola tingkah laku yang mendasarinya.

Agustine Dwiputri PSIKOLOG

READ MORE - Cemburu karena Masa Lalu Pacar

5 Daya Tarik Pria di Mata Wanita

Apa yang membuat Anda tertarik saat pertama kali bertemu pasangan? Mungkin, penampilan fisik menggoda yang bisa bikin hati Anda 'kepincut' padanya.

Tapi, bagi wanita tidak hanya penampilan fisik yang mampu merebut hati mereka. Lima hal yang ada dari pria ini juga punya andil besar dalam memikat hati wanita.

1. Kecerdasan

Kepintaran pria, atau otak 'encer' yang dimiliki si dia menunjukkan kejantannya. Pengetahun serta Wawasan luas yang dimiliki pria bisa bikin wanita merasa kagum, dan bangga bisa menggandeng pria cerdas.

2. Selera humor

Pria dengan lelucon memiliki pesona tersendiri. Sebab, selera humor bisa menunjukkan pada wanita si dia bisa bersikap luwes dan tidak kaku.

3. Sebagai pelindung wanita

Memiliki sikap melindungi adalah salah satu sikap pria yang disukai wanita. Cara pria memperlakukan wanita, misalnya mengulurkan tangan untuk membantu wanita saat menuju tanjakan curam, atau sekadar merangkul, bisa membuat wanita tersenyum. Perhatian pria memang bisa membuat hati wanita berbunga-bunga.

4. Penampilan

Wanita menyukai pria yang pintar memadupadankan busana yang dikenakannya, dan mau merawat dirinya. Tapi, tidak berlebihan, lho. Jangan sampai, perawatan yang dijalani si dia lebih banyak dan lebih detil ketimbang Anda.

5. Aroma dan bentuk tubuh

Lekukan tubuh pria sangat berbeda dari wanita, tentu mampu membuat Anda deg-degan saat melihatnya. Postur tubuh ideal pria dengan perut rata, dan lengan kekar, tidak hanya terlihat seksi tapi juga dianggap bisa melindungi wanita. Selain bentuk tubuh, aroma tubuh pria juga bisa menggoda wanita.
READ MORE - 5 Daya Tarik Pria di Mata Wanita

Site Info

online counter
Site Meter blog-indonesia.com